Image
Beranda
Follow US:

KLHK ANTISIPASI KARHUTLA MENJELANG IDUL FITRI 2021

KLHK ANTISIPASI KARHUTLA MENJELANG IDUL FITRI 2021

Mengantisipasi kebakaraan hutan dan lahan (karhutla) menjelang kemarau dan Idul Fitri 2021, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memerintahkan untuk meningkatkan monitoring dan patroli pencegahan karhutla. Hal ini diungkapkan Siti Nurbaya dalam Rapat Koordinasi Teknis Antisipasi Bencana Karhutla yang dilaksanakan secara hybrid hari ini (28/4/2021).

Siti Nurbaya mengungkapkan jumlah hotspot berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) confidence level ?80?rada pada kondisi cukup rawan. Pada tahun 2021 s.d. 28 April menunjukan hotspot terpantau sebanyak 495 titik, pada periode yang sama tahun 2020 jumlah hotspot sebanyak 729 titik. Terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 234 titik/32,10 %.

“Areal kebakaran berdasarkan penghitungan luas berdasarkan citra landsat sampai dengan 31 Maret 2021 tercatat 23.783 ha, sedangkan di lahan gambut seluas 16.536 ha. Kondisi ini Lebih tinggi dari tahun lalu pada periode yang sama pada tahun 2020 seluas 19.372 ha sedangkan di lahan gambut seluas 12.131 ha,” ungkap Siti Nurbaya.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Laksmi Dhewanthi mengungkapkan sampai dengan 26 April 2021 telah dilakukan pemadaman oleh Manggala Agni dan stakeholder di lima belas provinsi sebanyak 798 titik pemadaman.

“Selain pemadaman, upaya pencegahan juga selalu dilakukan, sampai dengan saat ini patroli mandiri oleh Manggala Agni telah dilaksanakan pada 464 posko desa di provinsi rawan karhutla. Posko desa tersebut tersebar yaitu 46 posko di Sumatera Utara, 58 posko di Riau, 12 posko di Kepulauan Riau, 46 posko di Jambi, 45 posko di Sumsel, 77 posko di Kalbar, 81 posko di Kalteng, 53 posko di Kalsel, dan 20 posko di Kaltim, 26 posko di Sulawesi,” ungkap Laksmi.

Laksmi menambahkan selain itu patroli terpadu sudah mulai dilaksanakan sejak Maret 2021 di Provinsi Riau dengan membangun 16 posko patroli yang menjangkau 45 desa di sekitarnya. Patroli terpadu di Riau dilanjutkan pada periode 5 April – 5 Mei di tujuh posko desa yang menjangkau 21 desa di sekitarnya.

“Selain Riau, Kepulauan Riau dan Jambi juga telah memulai pelaksanakan patroli terpadu di tiga lokasi yang bisa menjangkau sembilan desa di sekitarnya,” ungkap Laksmi.

Laksmi mengatakan upaya pencegahan lain yang dilakukan adalah pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BPPT dan BNPB di Riau dan Kalimantan Barat. Pelaksanaan TMC di Provinsi Riau, 10 Maret - 5 April 2021, sudah dilaksanakan dengan menaburkan NaCl sebanyak 27 sortie, 21,5 ton garam, yang menghasilakan air hujan sebanyak 192,67 juta m3 air hujan. Sedangkan di Kalimantan Barat, 13 Maret – 7 April 2021, telah dilaksanakan operasi TMC dengan menaburkan NaCl sebanyak 15 sortie, 12 ton garam, yang menghasilkan 191,6 juta m3 air hujan.

“Selain TMC, upaya pengendalian karhutla juga dilaksanakan di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat sebanyak 2.335 sortie atau 9,8 juta liter air,” tambah Laksmi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengungkapkan waspada potensi karhutla kategori moderat dan tinggi pada bulan Juni - September 2021 terjadi di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Kategori moderat pada Bulan Juli dan September 2021 di sebagian Kalimantan Barat dan Kalimantan bagian Selatan. Sedangkan potensi karhutla kategori moderat dan tinggi di NTT dan Papua bagian selatan pada bulan Agustus – Oktober 2021.

“Pada bulan Juni - September 2021 sebagian besar Sumatera dan Jawa akan mengalami curah hujan dengan kategori rendah. Curah hujan pada musim kemarau tahun 2021 disebagian besar wilayah diperkirakan mendekati pola hujan musim kemarau normalnya,” pungkas Dwikorita.

Sebagai penutup Siti Nurbaya memerintahkan agar upaya pengendalian karhutla menjelang musim kemarau dan Idul Fitri 2021 agar terus ditingkatkan. Upaya yang perlu ditingkatkan meliputi analisis ekskalasi sampai dengan 5 Mei 2021, melakukan TMC pada daerah-daerah konvensional yang terbakar, memberikan atensi khusus pada bulan Mei di wilayah Jawa, memantapkan integrasi antara monitoring hotspot dan curah hujan, patroli dan MPA-Paralegal, serta teknologi modifikasi cuaca.