BP2TSTH Kuok_Kota Padang sebentar lagi akan memiliki Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati). Bukan taman kehati biasa, melainkan dibangun dengan desain zonasi yang mencakup zonasi jenis dipterokarpa, jenis tumbuhan penghasil energi, makanan, dan pulp termasuk jenis lokal dan langka. Taman ini akan dibangun atas kolaborasi antara PT. Semen Padang dengan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSH) Kuok. 

“Taman Kehati yang ingin bangun pada tahun ini, berada di areal PT. Semen Padang dengan luasan 88 hektar,” ujar Mustaqim Nasra, Kepala Unit Health Safety Environment PT Semen Padang, saat berkunjung ke BP2TSTH Kuok (4/02/2020) dalam rangka menindaklanjuti inisiasi pembangunan taman kehati tersebut.  Areal yang akan dijadikan taman kehati, menurutnya, berada di sekitar lokasi lapangan golf PT. Semen Padang. 

“Taman Kehati yang ada saat ini belum tertata pola dan desainnya untuk itu kami tertarik dengan desain dan pola pengembangan taman kehati yang pernah disampaikan oleh tim BP2TSTH sebelumnya,” sambung Alif Yuza, Kepala Urusan Lingkungan Hidup PT. Semen Padang. 

“Taman kehati yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan ditanami dan dipriotitaskan dari jenis tanaman yang cocok dan tergolong langka di Pulau Sumatra seperti kulim, merbau, giam dan sebagainya,” ujar Priyo Kusumedi, S.Hut., MP., Kepala BP2TSTH Kuok. 

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pada desain yang telah dipaparkan, telah mengakomodir karakteristik dan kesesuaian lahan tersebut. “Jikapun ada sedikit perlakuan untuk adaptasi sudah disiapkan oleh tim peneliti kami sebagai antisipasinya,” pungkas pria yang memulai karir sebagai peneliti ini. 

Selain membicarakan masalah kerjasama taman kehati, Priyo juga menyampaikan tentang peluang kemungkinan kerjasama lainnya dalam hal pengembangan dan pembuatan plot eksitu Taxus sumatrana. Menyambung pembicaraan tersebut, peneliti BP2TSH Kuok, Eka Novriyanti, S. Hut, M. Si, Ph.D menjelaskan, “Pohon taksus merupakan tanaman langka yang memiliki manfaat yang sangat banyak dalam pengobatan berbasis kearifan lokal di masyarakat saat ini.” 

Selain itu, banyak manfaat kesehatan yang sudah dirasakan oleh penduduk di sekitar habitus pohon tersebut sehingga menyebabkan kondisi populasi di alam menjadi semakin mengkhawatirkan. “Untuk itu perlu segera kita lakukan konservasi eksitu,” sambung Dodi Frianto, SP.,M.Si.,  peneliti BP2TSH Kuok yang juga terlibat di dalam tim. 

Selain membangun taman kehati, PT.Semen Padang juga menginginkan adanya rehalitasi hutan mangrove di Kabupaten Dumai agar bisa menahan abrasi dan menyerap polutan-polutan pertambangan batubara. Kegiatan lainnya yang bisa didanai Corporate Social Responsibility (CSR) Semen Padang yaitu pemberdayaan masyarakat dengan budidaya Taxus sumatrana. Produk akhir yany diharapkan adalah teh taxus yang bisa dipasarkan oleh kelompok tani/masyarakat. 

Kerjasama ini diharapkan menjadi sebuah wadah bagi peneliti beserta tim dalam berkarya dan mengabdikan pengetahuannya secara nyata, berdampak langsung ke pengguna dan lingkungan. Pada akhir pertemuan BP2TSTH Kuok memberikan cinderamata berupa salah satu produk pengembangan berupa teh taksus (DF) kepada ,  delegasi PT. Semen Padang. (DF&ES)

Sumber: Litbang KLHK