Image
Beranda
Follow US:

RHL pada BPDAS HL Benain Nolemina, Provinsi NTT.

RHL pada BPDAS HL Benain Nolemina, Provinsi NTT.

Papagarang, NTT - Inspektur Wilayah II Sumarto melakukan Ground Check Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Pulau Papagarang , Senin 5 April 2021. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala BPDASHL Benain Noelmina, Kepala Seksi RHL BPDASHL Benain Noelmina, Kepala SPTN Wilayah I dan III BTN Komodo, serta penyedia pelaksana RHL.

RHL di Pulau Papagarang penanamannya dilakukan di tahun 2019 yang merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden Joko Widodo pada saat kunjungan ke Taman Nasional Komodo. Luasan RHL seluas 75 Ha dengan tanaman endemik yang ditanam adalah Kedondong Hutan.

Kegiatan ground check merupakan tindak lanjut dari hasil e-Audit RHL pada BPDASHL Benain Noelmina yang dilaksanakan pada tahun 2020. Dalam pelaksanaannya, Sumarto didampingi oleh Pengendali Teknis Joko Yunianto. Menurut Joko, kegiatan ground check ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan persen tumbuh tanaman dari pelaksanaan RHL yang sudah dilakukan.

"Pada kesempatan ini, dipimpin langsung oleh Pak Inspektur kita akan mengambil sampel petak ukur untuk mengetahui kondisi, jenis tanaman, jumlah tanaman, dan finalnya adalah persen tumbuh tanamannya" ujar joko.

Pelaksanaan ground check ini tidak berjalan mudah. Cuaca ekstrem yang melanda sebagian pulau di Nusa Tenggara Timur 5 hari terakhir berdampak pada gelombang air laut di perairan Labuhan Bajo yang sulit ditebak. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, awan mendung dan sesekali hujan mengiringi perjalanan. Tim melakukan pengambilan 3 sampel petak ukur, proses pengambilan sampel petak ukur di Pulau Papagarang pun tetap ditemani langit yang mendung mulai dari awal sampai dengan selesai pengambilan data. 

Diakhir kegiatan, dilakukan diskusi terkait pelaksanaan RHL di Pulau Papagarang. Bapak Sumarto menyampaikan 5 rekomendasi yang perlu menjadi perhatian semua pihak dalam pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, antara lain:
1. Pagar harus tetap dipertahankan sampai bibit berusia 5 tahun.
2. Kelembagaan, masyarakat harus dibimbing untuk memberikan pemeliharaan.
3. Bangun pengawasan dari forum desa agar ada keterlibatan dari aparat desa, TNI dan Polisi untuk ikut mengawasi.
4. Mengupayakan ada diversifikasi usaha pemanfaatan tanaman RHL yang ada.
5. Balai Taman Nasional Komodo diharapkan melakukan riset terapan terkait pemanfaatan tanaman endemik yang tumbuh di areal Taman Nasional.

Inspektur Wilyah II Bapak Sumarto berharap dengan 5 rekomendasi tersebut, RHL di Papagarang bisa menjadi percontohan. Menurutnya, untuk ukuran orang awam RHL di Papagarang ini merupakan sesuatu yang luar biasa karena bisa ditanami, ini bukti adanya kolaborasi yang baik antar UPT ditingkat tapak (BPDAS Benain Noelmina dan BTN Komodo). "Ini Luar Biasa". tandasnya.