Perjalanan buku vademecum kehutanan ini cukup panjang. Dimulai pada 1971 dengan Almanak Kehutanan, kemudian terbit Vademecum Kehutanan Indonesia 1976. Buku ini pernah menjadi rujukan utama bagi para mahasiswa tingkat sarjana kehutanan, bahkan menjadi instrumen membangun nilai-nilai korsa rimbawan. 

Sains dan teknologi terus menjadi bagian dalam perkembangan vademecum kehutanan. Mulai dari Manual Kehutanan 1992, Panduan Kehutanan 1998 dan 1999, draf Panduan Kehutanan Indonesia 2014, hingga Vademecum 2020 ini. Ke depan, informasi dalam buku ini akan dikembangkan menjadi sistem manajemen ilmu pengetahuan pengelolaan hutan berbasis sains dan teknologi terkini, serta arus dinamika pengelolaan hutan Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa sains dan teknologi menjadi landasan dalam pengambilan keputusan dan praktik-praktik pengelolaan hutan. 

Para pihak menyambut baik kehadiran buku ini. Salah satunya dari Dr. Boen M Purnama, Penasehat Senior Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia (APHI) yang juga pernah menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan pada 2005-2010. 

“Berdasarkan pengalaman kami yang berkecimpung dibidang kehutanan selama lebih dari 3O tahun, buku Vademecum ini sangat bermanfaat, baik bagi para pengambil keputusan di pusat dan di daerah, bagi para pendidik, peneliti, praktisi dan mahasiswa kehutanan serta  para pihak pemangku kepentingan,” ungkap Dr. Boen M Purnama, yang disampaikan melalui video singkat dari telepon genggamnya. 

Buku ini nanti dapat diakses secara lengkap oleh semua pihak. Pada pertengahan Januari 2021, buku Vademecum Kehutanan Indonesia 2020  ini sudah tersedia dan dapat diunduh melalui laman www.forda-mof.org.*(DP&TS)

Penulis : Dyah Puspasari & Tutik Sriyati
Editor : Yayuk Siswiyanti