Image
Beranda
Follow US:

Hindari Kelangkaan, Perlu Pemanfaatan Lestari Cemara Sumatra

Hindari Kelangkaan, Perlu Pemanfaatan Lestari Cemara Sumatra

BP2TSTH (Kuok, Februari)_Baru-baru ini Tim Peneliti Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok  menemukan populasi Taxus sumatrana di Gunung Singgalang. Tim menemukan empat pohon yang jarak dari satu pohon ke pohon berikutnya berkisar dari 40 m hingga 400 m, serta satu anakan setinggi ±50 cm. Keempat pohon yang ditemukan memiliki kisaran diameter mulai dari ±20 cm hingga ±180 cm. Taxus di Gunung Singgalang ini ditemukan mulai pada ketinggian 1791 m dpl.

Penemuan ini mendukung praduga bahwa populasi pohon endemik Sumatra bernilai tinggi ini kemungkinan dapat ditemukan di sepanjang pegunungan Bukit Barisan asal ketinggian dan kondisi lingkungannya sesuai.

Selanjutnya, survey yang dilakukan oleh tim BP2TSTH Kuok menunjukkan struktur tegakan yang tidak ideal untuk T. sumatrana yang ditemukan di habitat asinya dimana hampir tidak ditemukan tingkat tiang dan pancang dan sangat sedikit sekali terdapat anakan di habitat alaminya.

Mengingat populasinya yang sangat kecil dengan penyebaran yang terbatas dan karakter pertumbuhan yang lambat tersebut, untuk mendapatkan potensi kesehatan yang luar biasa dari cemara Sumatra ini haruslah dilakukan dengan pemanfaatan yang lestari (sustainable utilization). Pertumbuhan yang lambat dan regenerasi yang relatif sulit, ditambah lagi daerah penyebaran yang terbatas, menyebabkan populasi hampir semua species taxus di dunia menjadi sangat kecil dan sangat gampang mengarah pada kelangkaan. Sehingga, walaupun di Indonesia belum diekploitasi, T. sumatrana sudah masuk dalam daftar tanaman yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. 92 tahun 2018.

Harapannya dengan melihat karakter perumbuhan tanaman cemara Sumatra yang sangat mudah bercabang, teknik budidaya dan memanen tanpa menebang/mematikan tanaman ini sangat memungkinkan untuk dilakukan perbayakan secara vegetatif. Selain itu, masih ada cara lain dalam mendapatkan senyawa spesifik anti kanker Taxol®, yaitu melalui bioteknologi yang memerlukan investasi dan keahlian tertentu

Baca juga : Taxus sumatrana, the Endangered Anti-Cancer Drug

Pohon yang termasuk dalam Family Taxaceae dan merupakan gimnosperma ini tidak memiliki saluran resin. Tumbuhan ini termasuk dalam kelompok tumbuhan dioecious atau berumah dua, yang berarti bunga jantan dan bunga betina berada pada individual pohon yang terpisah. Tumbuhan berdaun jarum ini termasuk jenis yang lambat tumbuh dengan permudaan alami yang relatif sulit.

Menurut Thomas dan Polwart dalam laporannya di Jurnal of Ecology tahun 2003, menyatakan bahwa pertumbuhan T. baccata yang tumbuh di Eropa, dalam 20 tahun tingginya hanya mencapai rata-rata 4,5 m dengan laju pertumbuhan tinggi 20-30 cm per tahun jika tempatnya terbuka dan laju pertumbuhan diameter berkisar dari 0,095 mm per tahun hingga 3 mm per tahun jika kondisi tanahnya sangat cocok.

Sementara itu, Peneliti BLI dari BP2LHK Aek Nauli melaporkan laju pertambahan tinggi maksimal hanya 19,2 cm dan diameter maksimal hanya 2,27 mm dalam satu tahun pengamatan pada T. sumatrana yang di tanam di Kebun Percobaan Sipisopiso.

Cemara Sumatra memiliki nama latin T.sumatrana, merupakan jenis dalam genus Taxus. Di Asia merupakan satu-satunya Taxus yang ditemukan di daerah tropis. Seperti kerabatnya yang lain dalam genus Taxus, jenis ini memiliki kapasitas farmakologis yang luar biasa. Paclitaxel dan taxane merupakan senyawa anti kanker yang pertama sekali diisolasi dari T. brevifolia yang diperdagangkan dengan nama komersil Taxol, telah sejak lama beredar di dunia dan digunakan dalam pengobatan kanker.

Meskipun di Indonesia belum seterkenal kerabatnya, Taxol dan senyawa taxoid lainnya tercatat pernah diisolasi dari T. sumatrana, sehingga potensinya sebagai bahan dalam pengobatan kanker sudah didukung hasil riset. Selain potensinya dalam pengobatan kanker, tanaman ini juga telah dilaporkan mengandung bahan aktif bersifat anti oksidan, anti bakteri dan antidiabetes.

Andaxol: Taxus Herbal Anti-Cancer Product of Research Development and Innovation Agency (RDIA) LHK Aek Nauli

Sebagai Informasi, species Taxus sebagian besar tersebar di bumi belahan utara (northern hemisphere), dan T. sumatrana merupakan satu-satunya yang ditemukan di daerah yang sepenuhnya tropis, termasuk di Indonesia. Walaupun berada di daerah tropis, tumbuhan ini tetap menuntut kondisi tempat tumbuh yang spesifik yang membuat penyebarannya menjadi terbatas.

Sejauh ini, cemara Sumatra secara alami hanya ditemukan di hutan hujan tropis di pegunungan pada ketinggian di atas 1700 m dpl. Spjut pada tahun 2003 menyampaikan bahwa specimen herbarium T. sumatrana yang pernah dilaporkan berasal dari Sumatra (Gunung Kerinci dan Dempo) dan di Sulawesi. Namun begitu, hingga saat ini hampir tidak ada informasi lain mengenai keberadaan tumbuhan ini di Pulau Sulawesi.

Di Sumatra sendiri, eksplorasi yang dilakukan oleh peneliti-peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) melaporkan keberadaan Taxus sumatrana ditemukan di Guung Kerinci, Gunung Tujuh, Gunung Sibuaton dan Gunung Dempo.  ***E. Novriyanti, A. Wahyudi, dan D. Frianto