Image
Beranda
Follow US:

Geliat Adaptasi Perubahan Iklim untuk Membangun Ketahanan Masyarakat di Nusa Tenggara

Geliat Adaptasi Perubahan Iklim untuk Membangun Ketahanan Masyarakat di Nusa Tenggara

Apabila ditanya mengenai perubahan iklim, mungkin sebagian akan menjawab pernah mendengar namun tidak memahami maksudnya, tapi bila ditanya mengenai banjir atau kekeringan, sudah pasti semua memahaminya bahkan mungkin pernah mengalaminya. Dampak perubahan iklim sudah dirasakan oleh penduduk di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Gugusan kepulauan nusantara membentang di ekuator, dengan garis pantai salah satu yang terpanjang di dunia, menjadikan Indonesia rentan terhadap perubahan iklim.

Hal ini pula yang menjadi alasan utama salah satu ormas yang berkantor pusat di Oklahoma, Amerika Serikat yaitu World Neighbors Inc. (WN) untuk menjalin kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. WN telah lama berkecimpung di wilayah timur Indonesia, menjalankan program di pedesaan Nusa Tenggara. Saat ini program kerja sama yang sedang berlangsung bertajuk "Program Terpadu Pengarusutamaan Adaptasi Perubahan Iklim untuk Menurunkan Kerentanan Masyarakat Perdesaan di Wilayah Nusa Tenggara" dan tertuang dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP). Kerja sama disepakati berdurasi 3 tahun mulai November 2018 dengan wilayah kerja tersebar di 5 kabupaten yakni Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat, dan Dompu di Nusa Tenggara Barat serta Nagekeo di Nusa Tenggara Timur. Dalam melaksanakan programnya, WN menggandeng mitra lokal seperti Pusat Studi Pembangunan (PSP) di Lombok Barat, Berugak Dese di Lombok Tengah, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra (LPSDM) di Lombok Timur, Lembaga Studi Pengkajian Lingkungan (Lespel) di Dompu, dan Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) di Flores.

Dalam setahun telah beragam aktivitas yang dilakukan dan pada akhir bulan Januari 2020 kami berkesempatan untuk mengunjungi, mengamati, serta berdiskusi dengan masyarakat dan segenap perangkat pemerintah yang terlibat di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Dompu, NTB. Desa Tumpak dan Desa Montong Ajan merupakan lokasi yang dikunjungi di Kabupaten Lombok Tengah, sementara di Kabupaten Dompu adalah Desa Songgajah dan Desa Pekat.

Program kerja sama ini mencakup penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, penguatan praktek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta pengembangan metode dan instrumen monitoring evaluasi adaptasi perubahan iklim. Program tersebut diterjemahkan ke dalam aktivitas seperti pembentukan Tim SIDIK di 5 kabupaten yang menjadi lokus kerja sama. SIDIK (Sistem Informasi dan Data Indeks Kerentanan) merupakan sistem yang menyajikan informasi kerentanan dan risiko perubahan iklim yang dikembangkan KLHK dan dapat diakses secara online. Dalam SIDIK sudah tersedia fitur bagi pengguna yang ingin menambahkan data maupun indikator kerentanan, sehingga gambaran kerentanan di wilayah yang diinginkan dapat lebih akurat. Seluruh Tim SIDIK telah melakukan analisis kerentanan menggunakan SIDIK, mengidentifikasi dan mengumpulkan data untuk indikator lokal serta menyiapkan daftar pilihan aksi adaptasi perubahan iklim.

Untuk menguatkan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak, dibentuk 25 lokasi binaan ProKlim (Program Kampung Iklim). Aksi yang sempat terekam saat kunjungan, diantaranya pembuatan pupuk organik oleh masyarakat, pertanian konservasi berkelanjutan, agroforestri, pemanfaatan pekarangan, pemanfaatan informasi prakiraan curah hujan, rehabilitasi sumber mata air melalui pembangunan resapan, penanaman tanaman pangan lokal berupa jagung dan ubi jalar, pembentukan kelompok keuangan mikro dan pelatihan kewirausahaan perempuan, serta pengumpulan sampah plastik.

Ketua ProKlim Nyiur Gading, Pak Mahyudin menceritakan bahwa Desa Montong Ajan merupakan desa dengan kekeringan tertinggi di Lombok Tengah. Air menjadi persoalan utama wilayah ini sehingga aktivitas yang dilakukan diantaranya membangun lubang resapan, pertanian konservasi, dan penanaman mengikuti pola curah hujan (PCH). Aktivitas di Desa Tumpak, disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina Kelompok Wanita Tani (KWT) yang juga Ketua Penggerak PKK, Ibu Siti Aminah, yang dengan semangat mengutarakan capaian 3 KWT yang telah terbentuk, yaitu KWT Mole Monte di Dusun Tumpak, KWT Lestari di Dusun Pancar, dan KWT Titian Sejahtera di Dusun Banyak. Beliau menjelaskan bahwa sejak dibentuk KWT, nilai-nilai sosial tumbuh di masyarakat, seperti kemandirian dan keswadayaan, sikap peduli sesama, semangat usaha, dan yang terpenting, terbebas dari hutang dengan rentenir, karena salah satu usaha yang dikembangkan di KWT adalah simpan pinjam.

Masyarakat merasakan langsung manfaat atas aksi yang dilakukan, misalnya di Desa Tumpak, kini mereka merasakan pemukimannya lebih nyaman karena lebih bersih dan sedap dipandang mata. Setidaknya, hal itu diungkapkan oleh beberapa orang yang dijumpai di sepanjang jalan desa. Dahulu sampah berserakan di lingkungan pemukiman, namun dengan aksi yang digalakkan oleh WN beserta Berugak Dese, masyarakat diajari memilah sampah organik dan non organik. Sampah berupa bekas kemasan dan plastik dikumpulkan dan dijual.

Lain lagi yang diungkapkan oleh petani di Desa Montong Ajan yang telah mendapatkan pelatihan pertanian dengan memperhatikan PCH. Mereka menentukan jenis yang sesuai dengan prediksi cuaca ke depan dan terbukti dengan kebiasaan menanam padi kemudian beralih ke jagung ternyata memberikan hasil lebih baik.

Antusiasme masyarakat sangat terlihat saat kunjungan kami ke Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Dompu. Dukungan juga diberikan baik oleh Pemerintah Desa maupun Pemerintah Kabupaten saat dilakukan diskusi di Kantor Bappeda masing-masing. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

apifeb2011

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim bersama Direktur WN Asia Tenggara berbincang dengan Kepala Bappeda Lombok Tengah. Beliau mengapresiasi dan mendukung kegiatan WN dan mengusulkan agar dilakukan di 5 desa lain di bagian utara Lombok Tengah selain yang sedang berjalan saat ini di 5 desa di bagian selatan

apifeb2012

Tarian dan musik tradisional menyambut kedatangan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim dan rombongan di Desa Tumpak Kabupaten Lombok Tengah

apifeb2013

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim mendengarkan penjelasan Ketua Kelompok Tani di Desa Montong Ajan Kabupaten Lombok Tengah mengenai penerapan pertanian yang sudah memperhatikan pola curah hujan (PCH) agar petani terhindar dari gagal panen akibat kekeringan

apifeb2014

Kasubdit Identifikasi dan Analisis Kerentanan meninjau pembuatan pupuk kompos (organik) dari kotoran hewan di Desa Pekat, Kabupaten Dompu

apifeb2015

Diskusi dengan masyarakat Desa Songgajah, Kabupaten Dompu mengenai pemanfaatan pekarangan untuk tanaman pertanian

apifeb2016

Hamparan tanaman jagung, dengan pupuk organik di Desa Pekat, Kabupaten Dompu

Sumber: Ditjen PPI KLHK