Image
Beranda
Follow US:

Normalisasi vs Naturalisasi dalam Penanganan Banjir Jakarta Menurut Balitek DAS-BLI KLHK

Normalisasi vs Naturalisasi dalam Penanganan Banjir Jakarta Menurut Balitek DAS-BLI KLHK

Balitek DAS (Solo, Januari 2020) _Dalam penanganan banjir di Jakarta, ada dua hal yang menjadi perdebatan yaitu naturalisasi dan normalisasi. Sebetulnya cara yang paling efektif dalam penanganan banjir di Jakarta, cara yang mana? dan seberapa besar dapat mengurangi banjir di Jakarta? Pertanyaan tersebut muncul dari berbagai media, diantaranya  Metro TV, TaTV, Solo pos, MNC Group, dan Jateng Pos saat berkunjung ke Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) – Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI-KLHK) di Solo, Selasa (7/1/2020). 

"Jakarta merupakan kota yang selalu terkena bencana banjir. Kita tidak dapat menghilangkannya. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi risiko yang diakibatkan dari bencana banjir. Banyak cara yang dilakukan, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang, termasuk normalisasi dan naturalisasi. Proses normalisasi bisa dilakukan di hilir, sedangkan naturalisasi dilakukan di tengah dan hulu," ujar Dr. Irfan B. Pramono, M.Sc., Peneliti Balitek DAS Solo kepada wartawan. 

Dr. Irfan yang didampingi peneliti lainnya menjelaskan bahwa proses normalisasi merupakan proses untuk mempercepat aliran air ke laut. Teknik normalisasi dapat dilakukan melalui pelurusan sungai, pengerukan dan/atau pembuatan tanggul di bantaran sungai dari beton atau urugan tanah. Teknik normalisasi tersebut bertujuan agar aliran sungai menjadi lebih lancar dan tidak terhambat karena adanya kelokan (meander) atau erosi tebing sungai. Namun menurutnya, pada proses normalisasi akan ada beberapa konsekuensi yang mungkin timbul, yaitu supply air tanah berkurang, penurunan muka tanah makin cepat terjadi, dan intrusi air laut makin masuk ke daratan.   

Berbeda dengan normalisasi, pada proses naturalisasi, aliran sungai dibuat alami, di kiri-kanan sungai ditanami dengan jenis-jenis tanaman yang sesuai atau mempertahankan sungai yang berkelok-kelok. Inti dari naturalisasi adalah mengembalikan fungsi dan bentuk sungai sebagaimana aslinya sehingga bisa menambah kapasitas penyimpanan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. 

"Proses naturalisasi kurang efektif dilaksanakan di hilir atau Jakarta karena daerah resapannya sudah berkurang. Upaya ini apabila dilakukan di hilir hanya bisa mengurangi banjir sebesar 5-10%,” ujar Dr. Irfan. 

“Sebaliknya, upaya naturalisasi lebih efektif dilakukan di tengah dan hulu DAS. Upaya ini bisa mengurangi banjir di Jakarta kurang lebih sebesar 50% jika ditambahkan dengan pembuatan penampungan air di kanan-kiri sungai," tambahnya. 

Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dalam proses normalisasi cepat terlihat dampaknya, tetapi membutuhkan biaya yang cukup besar karena proses ini perlu pelebaran sungai dan pembangunan dinding-dinding tebing sungai. Sedangkan untuk proses naturalisasi lebih murah tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama, karena bisa efektif atau terlihat hasilnya pada waktu tanaman dapat berfungsi menahan air untuk meresap ke dalam tanah.   

"Jadi sebaiknya, kedua cara ini dilakukan, normalisasi di hilir dan naturalisasi di hulu dan tengah DAS. Keduanya, menurut saya tidak menjadi masalah dan akan saling melengkapi apabila dilakukan bersama-sama. Hasilnya akan lebih optimal,” ujar Dr. Irfan. 

“Proses normalisasi merupakan solusi tepat untuk jangka pendek dalam penanganan banjir Jakarta. Sedangkan proses naturalisasi merupakan solusi jangka menengah," tambahnya. 

Selain kedua solusi tersebut, Irfan juga menyarankan solusi lainnya. Untuk jangka menengah yaitu dengan membangun embung atau cekungan penampung yang berfungsi menampung suplai air hujan. Embung efektif dilakukan di bagian tengah DAS. Sedangkan solusi jangka menengah untuk hilir bisa dilakukan dengan pembangunan polder atau pembangunan tanggul. 

“Solusi jangka panjang yang perlu direncanakan sejak awal adalah perbaikan tutupan lahan di Daerah Tangkapan Air, yang dalam hal ini berada di tengah dan hulu DAS, yaitu daerah Depok dan Bogor. Perbaikan tersebut berupa rehabilitasi dan reboisasi menggunakan tanaman keras,” tegasnya. 

Selain diskusi penanganan banjir di Jakarta, pada kesempatan ini, para awak media juga membahas permasalahan DAS Bengawan Solo, dari segi kualitas dan kuantitas air, pencemaran air, serta dampak bencana banjir yang mungkin terjadi.***

 

Informasi Lebih Lanjut:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 – 716959