Image
Beranda
Follow US:

Terkait Sengon, Wakil Bupati Lumajang Ingin Kerja Sama dengan Babes Litbang BPTH Dilanjutkan

Terkait Sengon, Wakil Bupati Lumajang Ingin Kerja Sama dengan Babes Litbang BPTH Dilanjutkan

Babes Litbang BPTH (Yogyakarta, November 2019) _Wakil Bupati Lumajang berharap kerja sama antara Pemkab Lumajang dengan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Litbang BPTH) tentang pertanaman sengon yang telah terlaksana 5 tahun belakangan ini, dapat diperpanjang atau dilanjutkan lagi.

Harapan Wakil Bupati Lumajang itu disampaikan oleh Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Lumajang, Ir. Agus Junaedi C. saat memimpin rombongan Penyuluh Kehutanan dan Petugas Teknis Kehutanan melakukan kunjungan Studi Banding ke Balai Besar Litbang BPTH, Jumat (15/11/2019).

Hal itu disampaikan karena saat ini di Lumajang dan beberapa wilayah disekitarnya sedang menghadapi permasalahan pada pertanaman sengon. “Tidak hanya karat tumor melainkan juga hama ulat kantong, sehingga memaksa kami untuk menebang sengon cukup banyak karena terserang hama tersebut,” ujar Agus.

Agus menjelaskan bahwa di wilayahnya yaitu di Lumajang terdapat 55 ribu ha tanaman sengon, tanaman yang terserang hama/penyakit sekitar 5 ribu ha. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pihaknya untuk 2-3 tahun ke depan, karena bisa saja bahan baku kayu sengon tidak dapat tercukupi. Hama ini juga sudah mulai menyerang ke wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan.

“Tujuan kami ke sini adalah untuk mendapatkan ilmu tentang pemuliaan tanaman hutan khususnya tentang sengon, selain itu juga bambu dan biodisel. Kami mohon juga kepada rekan-rekan peserta agar dapat menyerap ilmu dari kegiatan ini,” jelas Agus.

Agus juga menginformasikan bahwa yang hadir pada kesempatan ini adalah 28 orang penyuluh kehutanan dan 25 tenaga teknis kehutanan lainnya. CDK Wilayah Lumajang meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan.

Menyambut baik kunjungan tersebut, Kepala Balai Besar Litbang BPTHDr. Nur Sumedi, S.Pi, MP. berharap kedatangan Pemerintah Lumajang kali ini semakin mengeratkan hubungan yang sudah terjalin cukup lama. “Kami persilakan untuk melihat, menyerap pengetahuan/pengalaman dari sini yang dibawa kemudian diterapkan di tempat kerja,” kata Nur Sumedi.

Lebih lanjut Nur Sumedi menyampaikan bahwa dari jadwal yang disampaikan kepadanya, ada beberapa materi yang akan dibagi kepada peserta. Materi pertama tentang sengon, menurutnya ini adalah hal yang sangat penting, karena pilar suplay kayu di Indonesia saat ini adalah dari hutan rakyat. Ketika hutan alam semakin turun, kemudian Hutan Tanaman Industri perkembangannya belum sesuai dengan yang diharapkan, sehingga hutan rakyat ini benar-benar menjadi penopang bagi suplay kayu di Indonesia.

“Akhir-akhir ini sengon cukup mendominasi, namun celakanya ketika sengon terkena serangan karat tumor, hal ini membuat suplay dan semangat masyarakat untuk menanam menjadi agak terganggu,” imbuh Nur Sumedi.

“Apa yang dikerjakan oleh Dr. Liliana Baskorowati berserta timnya adalah mencari sengon yang tahan terhadap penyakit khususnya karat tumor, namun yang saya lihat di lapangan pada demplot-demplot yang sudah dibangun tidak hanya tahan terhadap penyakit, namun produktifitasnya juga lebih tinggi dari sengon pada umumnya,” tambahnya.

Materi kedua adalah biodiesel yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, MP. yang  sudah cukup lama menggeluti biodiesel, dan sudah menerima banyak penghargaan di tingkat nasional. “Biodisel hasil penelitian Prof. Budi ini juga sudah pernah dicoba pada kendaraan dinas oleh Menteri KLHK, Ibu Siti Nurbaya,” jelas Nur Sumedi meyakinkan para peserta.

Materi terakhir adalah budidaya bambu yang disampaikan oleh Fithry Ardhany, S.Hut.,M.ScKababes berharap, peserta kunjungan studi banding bisa mendapatkan manfaat dari kunjungan kali ini.

“Apabila masih ada yang perlu didalami, silakan untuk berdiskusi dengan para peneliti yang bersangkutan maupun dengan manajemen,” ujar Kababes. Setelah paparan kegiatan dilanjutkan dengan berkunjung ke Laboratorium Bioenergi dan laboratorium Kultur Jaringan.***(MNA)

Sumber: Litbang KLHK