Image
Beranda
Follow US:

Konferensi Internasional Peneliti Kehutanan Indonesia (INAFOR) V - 2019 Resmi Diluncurkan

Konferensi Internasional Peneliti Kehutanan Indonesia (INAFOR) V - 2019 Resmi Diluncurkan

BLI (Jakarta, Mei 2019)_Selasa pagi (28/5/2019), Konferensi Internasional Peneliti Kehutanan Indonesia (International Conference of Indonesia Forestry Researcher-INAFOR) V 2019 resmi diluncurkan. Pernyataan peluncuran oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Agus Justianto ini disampaikan di acara Pojok Iklim di Gedung Mangggala Wanabakti, Jakarta. 

“Akhirnya, dengan mengucap “Bismillahirohmanirohim”, penyelenggaraan Konferensi Internasional para peneliti kehutanan Indonesia (International Conference of Indonesia Forestry Researcher-INAFOR) dan INAFOR Expo 2019, saya nyatakan resmi diluncurkan,” ucap Agus. 

Sebelumnya, dalam sambutannya, Agus menyatakan bahwa peluncuran INAFOR dan INAFOR Expo 2019 ini adalah untuk mengarusutamakan agenda-agenda INAFOR dan INAFOR Expo 2019, sekaligus mengajak para pihak untuk berpartisipasi, bersama-sama membangun narasi kelestarian hutan dan lingkungan. 

“INAFOR adalah salah satu strategi marketing yang kami lakukan di Badan Litbang dan Inovasi dalam melakukan positioning di tingkat global,” kata Agus di hadapan para undangan, peserta dan media yang hadir. 

Sebagai informasi, Konferensi Internasional Para Peneliti Kehutanan Indonesia-INAFOR yang akan dilaksanakan pada 27-30 Agustus 2019 ini nantinya akan melibatkan lebih dari 2.500 scientists, 50 organisasi internasional dan 20 negara partner. Selama penyelenggaraannya, INAFOR akan mengaplikasikan pengalaman-pengalaman digital. Konferensi bertema “Enforcing Forest Restoration and Waste Management for Better Environment and Socio-Economic Befefits” ini akan membangun urgensi restorasi hutan, sampah dan limbah. 

“Diharapkan dari konferensi ini tumbuh jaringan baru dan narasi-narasi yang kuat dalam mengambil keputusan tentang restorasi dan agenda pengelolaan sampah dan limbah. Hasil-hasil Konferensi ini juga akan kami bawa dalam pertemuan internasional Perubahan Iklim (COP-UNFCCC) 25 pada 3-12 Desember 2019 di Santiago, Chile,” kata Agus. 

Eksistensi INAFOR ini penting, kata Agus karena terkait 4 paradigma baru agenda kerja Badan Litbang dan Inovasi. Menurut Agus, 4 paradigma baru dalam agenda kerja BLI ke depan akan membangun posisi tawar baru penelitian dan pengembangan. 

“Sebagai lembaga pembangun pengetahuan kehutanan dan lingkungan, Badan Litbang dan Inovasi dan jajarannya saat ini mulai masuk pada platform kerja dalam 4 paradigma baru, mengaruskan peran penting institusi riset sebagai pilar dasar kerja para pihak Lingkungan hidup dan kehutanan,” kata Agus. 

Empat paradigma baru tersebut yaitu produksi dan reproduksi pengetahuan; kontestasi pengetahuan dan branding; promosi, kampanye dan advokasi; pembangunan jaringan dan memperluas jangkauan; masuk dalam virtual era dan society era, serta merintis komersialiasi, bisnis dan marketing. 

“Saya berharap penelitian and pengembangan tidak berhenti pada publikasi dan buku, namun sudah saatnya bergerak untuk membangun bisnis dan entrepreneur. Peran taft leadership (kepemiminan yang tangguh), kredibel, berintegritas, dan memiliki jaringan luas menjadi pilar utama untuk memimpin komando pergeseran platform kerja tersebut,” kata Agus.

Di akhir sambutannya, Agus menitipkan pesan bahwa agenda kerja LHK tidak dapat diselesaikan secara sendirian. KLHK juga memerlukan partner kerja, dan saling berkontribusi sumberdaya. “Saya ingin mengulang pesan saya: jika ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendirian, jika ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama atau tim,” pungkasnya.***RH

Sumber: Litbang KLHK