Image

Restorasi Eksosistem Berbasis Genetik di Taman Nasional Gunung Merapi

Restorasi Eksosistem Berbasis Genetik di Taman Nasional Gunung Merapi

Biotifor (Yogyakarta, Maret 2019)_Restorasi ekosistem berbasis genetik dipandang sebagai salah satu solusi yang tepat dalam upaya memulihkan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) paska erupsi besar 2010 silam, dan juga akibat erupsi periodik yang kerap terjadi. Hal ini karena tujuan restorasi adalah mengembalikan kawasan pada kondisi awal, sekaligus meningkatkan fungsi dan nilai hutan baik ekonomis maupun ekologisnya.

“Prinsip kegiatan restorasi ekosistem di kawasan konservasi itu harus menjaga kemurnian genetik dan memperhatikan asal usul bibitnya,” ujar Dr. Ir. AYPBC Widyatmoko, M.Agr, peneliti utama pada Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, baru-baru ini dalam diskusi terbatas di kantornya. Diskusi ini secara periodik dilakukan antara B2P2BPTH dengan Balai TNGM setiap tahunnya untuk menemukan formulasi terbaik restorasi ekosistem berbasis genetik di TNGM.

Peneliti genetika molekuler yang akrab dipanggil Anton ini menjelaskan, bahwa kegiatan restorasi ekosistem perlu diarahkan untuk menjawab setidaknya empat pertanyaan. “Bagaimana cara mengembalikan kondisi seperti awal? Jenis apa saja yang ditanam? Dari mana asal bibitnya? dan Bagaimana design penanamannya?,”imbuhnya.


Kerjasama restorasi ekosistem TNGM

Kegiatan restorasi ekosistem berbasis genetik di kawasan TNGM diimplementasikan dalam bentuk kegiatan bersama antara B2P2BPTH dengan Balai TNGM dengan tema “Penguatan Fungsi Pengawetan Jenis-Jenis Tumbuhan Lokal Melalui Pembuatan Demplot Restorasi di Kawasan TNGM”. Durasi kegiatan ini selama 3 tahun (2018-2020).

Kerjasama ini mencakup kegiatan survei populasi dan potensi jenis-jenis potensial Gunung Merapi; pengumpulan sampel dan analisa keragaman genetik menggunakan penanda DNA; perbanyakan secara vegetatif dan atau generatif dari jenis-jenis target; penyusunan strategi dan pelaksanaan kegiatan konservasi jenis-jenis tersebut untuk mendukung pemulihan ekosistem di TNGM; monitoring ekosistem dan pembuatan desain serta pembangunan demplot restorasi jenis-jenis lokal/endemik.

“Tahun 2018, kegiatan yang sudah dilakukan adalah survei populasi dan potensi 6 jenis target potensial Gunung Merapi yaitu Sarangan/Saninten (Castanopsis argentea), Tesek (Dodonaea viscosa), Puspa (Schima wallichii), Pasang (Lithocarpus sp.), Sowo (Engelhardia spicata), dan DadapD uri (Erythrina lithosperma),” lanjut Doktor lulusan Jepang ini.

Untuk analisis DNA, telah dilakukan pengumpulan materi genetik daun dan/atau kambium, anakan, buah dan biji. Kegiatan perbanyakan secara vegetatif dan atau generatif juga dilakukan. Selain itu, menurut Anton, juga telah dibangun petak ukur permanen (PUP) untuk monitoring eksosistem dan pembangunan demplot restorasi jenis-jenis lokal.


Menjaga kemurnian genetik

Jenis yang tumbuh di TNGM secara genetik mempunyai kekhususan, kemungkinan tidak dimiliki oleh jenis yang sama yang tumbuh di tempat lain. “Kegiatan restorasi ekosistem berbasis genetik di TNGM merupakan perpaduan antara in-situ dan eks-situ atau sering juga disebut sebagai pseudo-insitu, dengan memperhatikan asal usul bibit dan lokasi penanaman” tambah Anton.

Dari aspek formal, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa merupakan acuan kegiatan restorasi ekosistem untuk menjaga kemurnian dan keragaman genetik di suatu kawasan konservasi. Peraturan lainnya adalah Peraturan Direktur Jenderal KSDAE Nomor P. 12/KSDAE-Set/2015 tentang Pedoman Tata Cara Penanaman dan Pengkayaan Jenis Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Daratan Pada Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam.

“Oleh karena itu, restorasi ekosistem di TNGM kita usahakan menggunakan bibit yang berasal dari TNGM untuk menjaga kemurnian genetik yang ada di kawasan tersebut,” tegasnya.

Kegiatan yang sangat penting dalam restorasi berbasis genetik adalah analisis keragaman genetik. Menurut Anton, tahun 2017 telah dilakukan analisis keragaman jenis saninten, tahun 2018 jenis tesek, dadap dan sowo, sedangkan pada tahun 2019 untuk jenis pasang dan puspa.

“Kami berharap kegiatan restorasi ekosistem yang dilakukan di kawasan TNGM pasca kerjasama ini paripurna nanti dapat menjadi acuan untuk kegiatan restorasi ekosistem bagi taman nasional lain dengan menitikberatkan perhatian pada kemurnian genetik melalui penggunaan benih/bibit yang berasal dari dalam kawasan konservasi tersebut,” tutup Anton.

Selain aspek teknis, kegiatan restorasi ekosistem kawasan TNGM juga memasukan aspek sosial budaya dengan mengandeng masyarakat sekitar. Masyarakat diposisikan sebagai mitra untuk melakukan koleksi dan pembibitan dengan pendampingan dari para peneliti B2P2BPTH. Langkah ini juga menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat yang apik, untuk meningkatkan terciptanya kecintaan masyarakat pada TNGM sekaligus membantu peningkatan pendapatan masyarakat.*(PK)

 

Informasi lebih lanjut:

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 15, Purwobinangun, Yogyakarta 55582, Telp. (0274) 895954, Faks. (0274) 896080
url : http://biotifor.litbang.menlhk.go.id
atau http://www.biotifor.or.id     

Sumber: Badan Litbang dan Inovasi

Informasi lainnya klik disini