Pengembangan HKm di DAS Babak - Lombok Berdampak pada Peningkatan Kualitas Lingkungan

admin 09:19:47 Lingkungan Hidup dan Kehutanan
img

BP2THHBK (Mataram, 21/6/2018)_Dalam kurun 2007-2015 telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan sebagai dampak pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di DAS Babak. Hal ini disampaikan Ryke Nandini, peneliti Balai Litbang Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam disertasinya yang berjudul “Model Pengembangan Kehutanan Masyarakat Berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) di DAS Babak, Pulau Lombok”. 

Menurut Nandini, kebijakan HKm yang dipayungi Peraturan Menteri Kehutanan No. P.37/Menhut-II/2007 merupakan langkah ideal yang dapat diterapkan untuk menciptakan kelestarian hutan dan meningkatkan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan. “Berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa praktik HKm mampu meningkatkan kualitas lingkungan baik biofisik, sosial maupun ekonomi,” kata Nandini. 

Nandini menjelaskan, peningkatan kualitas lingkungan biofisik di DAS Babak ditandai dengan penurunan erosi tahun 2007-2013 sebesar 10,51%. Peningkatan kualitas sosial menunjukkan bahwa dalam kurun 2008-2015 terdapat peningkatan jumlah penduduk yang berada di atas garis kemiskinan sebesar 40,2%; serta perubahan perilaku dalam pemanfaatan kayu bakar pada 66,5% petani. 

“Adapun peningkatan kualitas ekonomi ditandai oleh peningkatan pendapatan Rp905.130,- per-bulan/ha pada tahun 2008 menjadi Rp1.739.677 per-bulan/ha pada tahun 2015,” Jelas Nandini.

 

Keterpaduan Antar Dimensi Perlu untuk Tingkatkan Keberhasilan HKm di Pulau Lombok

Kendati memberikan dampak positif bagi kualitas lingkungan, ternyata keberadaan HKm di DAS Babak belum berada pada kondisi berkelanjutan. Hasil evaluasi yang dilakukan Nandini pada 2017 menunjukkan bahwa HKm di DAS Babak yang di dalamnya meliputi 4 HKm di Desa Aik Berik, Setiling, Lantan dan Karang Sidemen berada pada kondisi yang cukup berkelanjutan dengan nilai indeks 50,97%. 

“Evaluasi kondisi HKm yang dilakukan dengan menggunakan metode Multidimensional Scaling dengan pendekatan Rapfish (Pitcher dan Preikshot, 2001) ini menggunakan 5 dimensi dalam penilaian yaitu ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan teknologi,” kata Nandini. Kelima dimensi tersebut digunakan karena upaya peningkatan kondisi HKm memerlukan keterpaduan antar dimensi. 

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat atribut yang paling sensitif dalam menentukan keberlanjutan HKm di DAS Babak, yaitu penutupan lahan (dimensi ekologi), tingkat kemiskinan (dimensi ekonomi), tingkat pendidikan (dimensi sosial), kegiatan kelompok tani (dimensi kelembagaan), serta teknik pemanenan (dimensi teknologi) yang masing-masing mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain sehingga prioritas penanganan dilakukan dengan melihat keterkaitan tersebut. 

Dalam disertasinya, Nandini juga merumuskan keterkaitan antar kelima atribut sensitif yang selanjutnya disebut sebagai model pengembangan HKm berkelanjutan di DAS Babak. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keberlanjutan HKm adalah meningkatkan jenis penutupan lahan; mengatur luas lahan garapan optimal sebesar 0,5 ha/petani dengan pola pemanfaatan lahan dari produk tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK); meningkatkan kapasitas petani dengan berbagai pelatihan; dan meningkatkan intensitas kegiatan HKm; serta mengatur pemanenan.***RN

Sumber: Litbang KLHK

Informasi lainnya klik disini


Berita Terkait

Informasi Terpopuler

Statistik Website

Membuat script counter dengan Gambar

Akses Hari Ini (Visitor today)
Akses Kemarin (Yesterday)
Total Pengunjung (Visit)

Galeri Foto dan Video