Optimalisasi Dana Sawit untuk Mendukung Pencegahan Deforestasi

admin 20:35:17 Lingkungan Hidup dan Kehutanan
img

P3SEKPI (Jakarta, 14/04/2018)_Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) bekerjasama dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertema Optimalisasi Dana Sawit dalam Mendorong Industri Minyak Sawit Berkelanjutan dan Dukungannya dalam Pencegahan Deforestasi” di Hotel Morrisey, Jakarta, Jumat (13/04/2018). 

FGD dilaksanakan sebagai bentuk diseminasi hasil kerjasama penelitian antara P3SEKPI dan CIFOR dalam studi Governance Arrangements for Sustainable Palm Oil: Addressing Land Tenure and Fiscal Incentive Issues di bawah kegiatan Governing Oil Palm Landscape for Sustainability (GOLS) yang bekerjasama dengan United States Agency for International Development (USAID). 

Selain di Jakarta, diseminasi berupa FGD dan lokakarya juga akan dilaksanakan di Palangkaraya dan Pontianak. Fokus dari FGD kali ini adalah optimalisasi insentif fiskal dari dana sawit untuk mendorong praktik-praktik pengelolaan sawit berkelanjutan. 

Acara yang dibuka oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Agus Justianto, M.Sc. ini dihadiri oleh Kepala P3SEKPI Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc. FGD juga menghadirkan multi stakeholder yang terkait dengan pengusahaan kelapa sawit dan kehutanan, baik dari pihak pemerintah, perusahaan, civil society organization (CSO), maupun asosiasi petani kelapa sawit dan asosasi pengusaha kelapa sawit. 

Tampil sebagai pembicara yaitu dari P3SEKPI, CIFOR, Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Selain itu, dihadirkan empat pembahas yaitu  Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar - Kementerian Pertanian, Direktorat Bioenergi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, dan Abetnego Tarigan dari Kantor Staf Presiden RI. 

Menurut Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan, saat ini kelapa sawit menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi yang menjadi sumber penghasil devisa negara tertinggi. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, nilai ekspor kelapa sawit pada tahun 2017 sebesar USD 23 miliar dan berkontribusi sebesar 13,5% terhadap nilai ekspor Indonesia. 

Saat ini luas areal kebun sawit Indonesia sekitar 14 juta ha dengan komposisi perkebunan swasta seluas 52%, perkebunan pemerintah seluas 7%, dan perkebunan rakyat seluas 41%. Proporsi tersebut menjadikan komoditas kelapa sawit memiliki nilai strategis untuk mendukung rencana pembangunan pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup petani kecil sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perkebunan Indonesia. 

Di sisi lain, sektor sawit menghadapi isu lingkungan terkait dengan adanya perkebunan sawit di dalam kawasan hutan yang dianggap sebagai salah satu penyebab deforestasi, termasuk perkebunan rakyat. Kondisi ini menyebabkan petani sawit rakyat swadaya sulit mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan karena tidak dapat memenuhi syarat legalitas lahan. Akibatnya petani sawit rakyat swadaya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melaksanakan praktik pengelolaan sawit lestari yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya produktivitas lahan. Kondisi ini cenderung mendorong petani untuk memperluas kebun ke dalam kawasan hutan sebagai salah satu cara meningkatkan pendapatan dari hasil kebun sawit. 

“Mengatasi isu tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki  tata kelola sawit di Indonesia melalui perbaikan aspek regulasi berupa penguatan peraturan standar-standar pengelolaan sawit lestari Indonesia, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO),” kata Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 

Bentuk kebijakan pemerintah lainnya untuk mendukung pengelolaan sawit lestari adalah dikeluarkannya kebijakan pungutan dana perkebunan sawit atas kegiatan ekspor sawit dan/atau produk turunannya sesuai UU No. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan, PP No. 24 tahun 2015, dan Perpres No. 61 tahun 2015 jo Perpres No. 24 tahun 2016. 

Salah satu tujuan penggunaan dana sawit ini adalah untuk mendukung kegiatan pengembangan pengelolaan sawit berkelanjutan melalui kegiatan peremajaan kebun kelapa sawit petani rakyat. Saat ini ada sekitar 2,4 juta ha kebun sawit rakyat yang perlu diremajakan tetapi terkendala oleh sumber daya untuk peremajaan. 

Diskusi berjalan hangat dan konstruktif. Opsi kebijakan yang diusulkan dari hasil penelitian adalah perlunya dukungan dana sawit bagi kegiatan peremajaan kebun sawit rakyat. Hal ini sebagai upaya intensifikasi lahan perkebunan yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun rakyat dan mengurangi kecenderungan memperluas lahan kebun, khususnya ke dalam kawasan hutan.***Ramawati

Sumber: Litbang KLHK

Informasi lainnya klik disini





Berita Terkait

Informasi Terpopuler

Statistik Website

Membuat script counter dengan Gambar

Akses Hari Ini (Visitor today)
Akses Kemarin (Yesterday)
Total Pengunjung (Visit)

Galeri Foto dan Video